dilema narapidana di kantor

mengapa rekan kerja saling menjatuhkan demi promosi

dilema narapidana di kantor
I

Mari kita bayangkan sebuah pemandangan yang mungkin sangat akrab bagi kita semua.

Senin pagi di kantor. Kita punya rekan kerja, sebut saja namanya Budi. Budi ini orangnya asyik. Dia sering membawa martabak untuk dibagi-bagi, selalu ramah, dan enak diajak bertukar pikiran. Kita merasa punya sekutu yang solid.

Namun, tiba-tiba ada pengumuman: bulan depan akan ada promosi untuk satu posisi manajer.

Seketika, atmosfer berubah. Budi yang tadinya asyik, mendadak "lupa" memasukkan nama kita di email laporan penting. Di depan atasan, Budi mulai halus menyela dan mengambil kredit atas ide yang sebenarnya kita bangun berdua.

Pernahkah kita berada di situasi seperti ini? Atau, mari kita jujur pada diri sendiri, pernahkah kita yang menjadi Budi?

Mengapa orang baik-baik bisa mendadak berubah menjadi licik saat ada jabatan yang dipertaruhkan? Rasanya mudah untuk sekadar melabeli rekan kerja kita sebagai orang yang toxic. Namun, kenyataannya jauh lebih rumit, dan jujur saja, jauh lebih menarik dari sekadar drama kantor biasa.

II

Untuk memahami fenomena Budi, kita perlu mundur sejenak ke tahun 1950.

Dua ilmuwan di RAND Corporation sedang mengutak-atik sebuah eksperimen matematika. Eksperimen ini kemudian diberi nama yang sangat dramatis oleh matematikawan Albert Tucker: Prisoner’s Dilemma, atau Dilema Narapidana.

Konsepnya begini. Bayangkan kita dan rekan kita ditangkap polisi atas tuduhan perampokan. Kita berdua diinterogasi di ruangan yang terpisah. Kita tidak bisa berkomunikasi sama sekali. Polisi kemudian memberikan sebuah penawaran yang sama kepada kita berdua.

Jika kita berdua bungkam, kita berdua hanya dipenjara 1 tahun.

Jika kita mengkhianati rekan kita (dan dia bungkam), kita bebas tak bersyarat, sedangkan rekan kita dipenjara 3 tahun.

Tapi, jika kita berdua saling mengkhianati, kita berdua dipenjara 2 tahun.

Logika sederhananya, hasil terbaik secara kolektif adalah jika kita berdua sama-sama bungkam (kooperasi). Namun, tebak apa yang hampir selalu dipilih oleh subjek eksperimen manusia? Ya, betul. Mereka saling mengkhianati.

Di dunia kerja, ruang interogasi itu adalah bilik kubikel kita. Polisi itu adalah manajemen. Dan kebebasan itu adalah promosi jabatan. Kita dan rekan kerja kita diam-diam memainkan Dilema Narapidana setiap hari.

III

Sekarang, sebuah pertanyaan besar muncul di kepala kita.

Jika bekerja sama saling menguntungkan bagi tim dan kesehatan mental bersama, mengapa kita secara otomatis cenderung memilih untuk saling sikut? Apakah manusia pada dasarnya memang jahat dan egois?

Psikologi evolusioner punya pandangan menarik soal ini. Otak kita masih membawa perangkat lunak dari zaman batu. Nenek moyang kita bertahan hidup dengan cara mengamankan sumber daya yang terbatas. Makanan, tempat berlindung, status sosial. Mereka yang lengah, tidak akan bertahan hidup untuk mewariskan gen mereka.

Lalu, kita dihadapkan pada teori permainan (game theory). Ada sebuah konsep matematika yang disebut Nash Equilibrium (titik keseimbangan Nash). Konsep ini menjelaskan bahwa dalam situasi tanpa rasa percaya, kita akan selalu memilih keputusan yang paling melindungi diri kita sendiri, terlepas dari apa yang dilakukan orang lain.

Kita berpikir: "Kalau saya bantu dia, jangan-jangan dia malah manfaatkan saya. Mending saya sikut duluan sebelum disikut."

Ketakutan akan dikhianati membuat kita menjadi pengkhianat pertama. Tapi tunggu dulu. Jika ini semua hanya soal insting purba dan perhitungan matematika yang dingin, apakah ini berarti kita dikutuk untuk selamanya terjebak dalam budaya kerja yang beracun?

IV

Inilah kejutan terbesarnya.

Teman-teman, jika kita melihat lebih dalam, yang salah sebenarnya bukanlah Budi. Yang salah bukanlah insting dasar kita. Yang menjadi akar masalahnya adalah arsitektur sistem tempat kita bekerja.

Dalam sains perilaku, ada perbedaan besar antara zero-sum game (permainan menang-kalah) dan non-zero-sum game (permainan menang-menang). Ketika perusahaan hanya menyediakan satu kursi promosi untuk diperebutkan oleh lima orang hebat, perusahaan secara artifisial sedang menciptakan lingkungan zero-sum.

Saat otak kita mendeteksi lingkungan zero-sum ini, amigdala—yaitu bagian otak kita yang berfungsi sebagai alarm ancaman—akan menyala terang benderang. Otak berhenti melihat Budi sebagai teman makan martabak. Otak melihat Budi sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup (atau karier) kita.

Berbagai studi dalam ekonomi perilaku menunjukkan fakta yang mencerahkan. Ketika struktur penghargaan diubah—misalnya bonus diberikan berdasarkan kolaborasi tim, bukan sekadar metrik individual—tingkat saling sikut turun drastis. Amigdala kita tenang. Otak kita kembali mengaktifkan korteks prefrontal, bagian otak yang mengurus empati dan perencanaan jangka panjang.

Jadi, rekan kerja yang saling menjatuhkan itu sebagian besar bukan karena mereka sosiopat. Mereka hanya orang-orang biasa yang bereaksi secara biologis terhadap sistem kompetisi yang salah desain. Musuh sebenarnya bukanlah rekan kerja di sebelah kita, melainkan aturan permainannya.

V

Lalu, bagaimana kita menyikapi ini semua mulai besok pagi di kantor?

Tentu kita tidak bisa langsung mendobrak ruang direktur dan meminta mereka mengubah sistem perusahaan. Tapi, dengan memahami sains dan psikologi di balik Dilema Narapidana, kita setidaknya mendapatkan satu kekuatan baru: empati.

Ketika Budi mulai bertingkah egois demi promosi, kita bisa menarik napas panjang. Kita tahu dia sedang ketakutan. Amigdalanya sedang dibajak oleh sistem. Pemahaman ini membuat kita tidak mudah baper atau bereaksi emosional secara berlebihan.

Lebih dari itu, kita punya pilihan sadar. Kita bisa memilih untuk menjadi pemutus rantai (circuit breaker). Membangun rasa percaya memang butuh keberanian yang besar karena kita mengambil risiko untuk dilukai. Namun, sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa spesies kita bisa mendominasi bumi justru karena kemampuan luar biasa kita dalam berkolaborasi, bukan karena saling menghancurkan.

Pernahkah teman-teman berpikir, mungkin perubahan budaya yang masif di kantor tidak dimulai dari memo HRD? Mungkin ia dimulai dari keputusan sederhana di meja kerja kita. Keputusan untuk tetap menaruh nama Budi di email laporan itu, menatap matanya, dan menunjukkan bahwa kita menolak bermain di arena yang beracun.

Terkadang, pemberontakan paling cerdas yang bisa kita lakukan di tengah sistem yang kompetitif adalah dengan memilih untuk tetap menjadi manusia.